Payung Do’a saat Hujan, Agar Berkah

9 01 2012

Sumber : GoogleMusim hujan yang melanda hampir di seluruh wilayah Indonesia sekarang ini seolah dirasakan tidak membawa berkah yang dirindukan, tetapi sering kali disertai dengan berbagai musibah dan bencana yang tak terduga sebelumnya dan menimbulkan berbagai kerugian materi. Berbagai media menyiarkan dampak buruk dari hujan deras di berbagai wilayah. Bahkan ada yang mengatakan ‘hanya 2 jam hujan, jakarta lumpuh’.

Apa yang sedang sebetulnya terjadi?? Apakah Tuhan murka dg tingkah manusia sehingga mangirim hujan-badai seperti ini? Sebagaimana yang dikisahkan dalam kitab suci Al-Qur’an, dimana Allah memporak-porandakan suatu negeri kaum nabi Nuh akibat kezaliman penduduknya..(Surat 11: 25-49),Wallahu’alam..

Yang harus segera kita lakukan, Mari kita introspeksi dan segera berbenah. Dan panjatkan Do’a saat hujan, memohon penuh ketundukan diri kepada yang mengirimkan hujan,Allah SWT. Singkirkan jauh2 pelindung2 selain Allah, karena tiada berguna. Semisal mendatangkan pawang hujan seperti yang dilakukan sebuah perusahaan kontraktor di kampus ternama di Bogor, untuk meredam hujan karena pekerjaannya tidak selesai2. Namun justru hujan lebat semakin meluluhkan usahanya.

Berikut Do’a yang dapat dijadikan Payung terbaik

Doa ketika ada angin rebut

اللهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا، وَخَيْرَ مَا فِيهَا، وَخَيْرَ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا، وَشَرِّ مَا فِيهَا، وَشَرِّ مَا أُرْسِلَتْ بِه
“Ya Allah Sesungguhnya saya meminta kepada-Mu, kebaikannya, kebaikan yang ada di dalamnya, dan kebaikan yang dibawanya. Dan Saya berlindung kepada-Mu dari keburukannya, dan keburukan yang ada di dalamnya dan keburukan yang dibawanya”.

Doa ketika ada halilintar

سُبْحَانَ الَّذِي يُسَبِّحُ الرَّعْدُ بِحَمْدِهِ وَالْمَلاَئِكَةُ مِنْ خِيفَتِهِ.
“Maha Suci Allah yang halilintar membaca tasbih dengan memuji-Nya, begitu juga para malaikat karena Takut kepada-Nya”.

Doa ketika turun hujan

«اللَّهُمَّ صَيِّبًا نَافِعًا»
“Ya Allah turunkan hujan deras yang bermanfaat”

Doa setelah turun hujan

مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِه
“Kita diberi hujan karena anugerah dan rahmat Allah”.

Doa meminta agar hujan berhenti

اللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا وَلاَ عَلَيْنَا، اللَّهُمَّ عَلَى الآكَامِ وَالظِّرَابِ، وَبُطُونِ الأَوْدِيَةِ، وَمَنَابِتِ الشَّجَر
“Ya Allah hujanilah di sekitar kami, bukan di atas kami. Ya Allah turunkanlah hujan di datran tinggi, bukit, dan lembah serta tempat-tempat tumbuhnya tanaman”.

Selain itu, yang dapat kita lakukan adalah Tarbiyah Dzatiyah dilakukan dalam berbagai betuk kegiatan berikut ini:

  1.  Meningkatkan pelaksanaan wajibat yaumiyyah (kewajiban harian) meliputi: shalat berjamaah di masjid, shalat rawatib,  qiyamullail, shalat witir, shalat dhuha, tilawah Al Qur’an, wazhifah pagi dan sore, melaksanakan puasa terutama tiga hari pertengahan bulan (ayyamul bidh, yang jatuh pada: sabtu, ahad, senin; 7,8,9 Januari 2012), memperbanyak infaq dan sedekah.
  2. Bersama dengan elemen masyarakat lain, membentuk kelompok siaga bencana yang bermarkaz di masjid, mushalla, dan lingkungan setempat; untuk memberdayakan masyarakat dalam menghadapi bencana dan membantu sesama.

Demikin, semoga hujan, panas, atau kondisi apapun yang Allah kirimkan menjadikan bangsa kita aman sejahtera melimpah berkah. Amin..





Let’s Say Haii Problem, I Have a Big God

5 01 2012

“Bangsa ini membutuhkan Pemuda-pemuda perkasa, yang bekerja keras disaat yg lain bermalasan. Yang tetap kuat semangat ketika yg lain lemah. Yang tetap bergerak ketika yg lain diam”.
(Super Motivator Indonesia)

Beberapa waktu lalu BAZNAS memberikan penghargaan kepada para Ibu, pahlawan keluarga pada program “Sejuta Cinta untuk Ibu”, dlm momentum hari Ibu 22 Desember. Program ini diselenggarakan untuk mengenang, mengapresiasi dan meneladani perjuangan para ibu dan “keibuan” para ibu yang tak terbayarkan oleh apapun.

Alhamdulillah dalam acara ini saya punya kesempatan terjun langsung bertemu, bersua dan sedikit menyampaikan “tanda cinta” sekedarnya. Target yang dibidik adalah Ibu-ibu yang pada usia senja (40 Th ke atas) masih bekerja, dan dari kalangan mustahik. Pada momen ini, ada aura positif yang dapat kita jadikan teladan dalam mengarungi rentang waktu dan perjalanan hidup.

Ibu dg usia diatas 50 tahun, sudah bertahun-tahun bekerja menarik gerobak mie nya demi mencukupi kebutuhan keluarga. 8 anak harus ia tanggung sendiri semenjak kematian suaminya. Tidak usah ditanya betapa lelah ia, terik matahari yg menyengat, hujan dn petir ia tembus untuk sebongkah harapan dan masa depan anak2 nya. Qt tidak brbicara dlm konteks kenapa ia tidak lebih cerdas unt mencari sumber penghasilan lain yang lebih nyaman. Semangat dan tanggung jawab nya sepertinya lebih baik qt lirik sebagai pelajaran.

Ketika ditanya apakah Ibu tidak cape’ atau terkadang rasa malas menghampiri? Ia jawab, “tentu nak,,pekerjaan ini melelahkan, trkadang juga ada rasa sakit”, jawab perempuan berusia lebih dari setengah abad yang memang sedang sakit ini. Namun, “saya harus. Saya harus tetap bekerja untuk anak-anak”, lanjut Ibu itu. Disinilah sumber energi itu. Keharusan berbuat mengalahkan rasa lelah dan sakit yang mendera.

Terkadang kita mudah sekali ditaklukkan rasa malas, lelah dan sedikit ‘sakit’. Sifat melankolik membelenggu diri, hanya karena sedikit duri. Keterbatasan menjadi pembenaran atas ketidakmampuan, dan berhenti disini. Kisah Ibu di atas mengajarkan bahwa kita berbuat bukan hanya atas kemauan diri saja, tapi juga keharusan berbuat.

Orangtua harus bekerja demi anak-istrinya, karenanya lelah,cape menjadi gula dan garam hariannya. Suami/ istri harus menjaga diri, mencintai, merawat dan menumbuhkan, karenanya banyak godaan tak menyilaukan. Seorang Mahasiswa yang mau lulus, harus mau mengerjakan skripsi sampai tuntas, keberanian melawan malas dan segala masalahnya. Jika menuruti moody/ rasa mau-tidak mau nya,niscaya tidak akan selesai ia, karena perasaan tidak mood lebih dominan muncul.

Kita dilahirkan bukan untuk menghindari masalah, tetapi untuk menghadapi dan menyelesaikannya. Karenanya berbuatlah sesuai apa yang harus kita lakukan, bukan sekedar kemauan. Lebih jauh,,berbuatlah dengan sepenuh Cinta, niscaya kita mendapatkannya, atas izin Allah SWT. Nian penat muncul masalah menantang di hadapan, katakan dg lantang ‘Hai Masalah!! saya memiliki Allah Yang Maha Besar..’

-Pulang kantor naik kereta seperti ini, juga harus siap lelah dan mau berdiri sepanjang perjalanan, dengan keikhlasan smoga semuanya menjadi pemberat timbangan pahala,, :) -





Mencintai Pekerjaan

15 12 2011

Kalau ada orang bijak seperti Rosevlt, Mahatma Gandhi, ada juga tokoh bijak seperti Umar bin Khattab. Ia pernah mengatakan, “Sesungguhnya saya mencintai Allah dan engkau wahai Rasulullah melebihi segala apapun, kecuali diriku sendiri..” . Rosul SAW mengatakan, “Tidak! Wahai Umar! Sampai engkau benar benar mencintai Allah dan RosulNya, melebihi dirimu sendiri”

Begitulah gelora cinta karena iman selayaknya. Mencintai Allah dan RosulNya melebihi apapun. Oleh sebabnya mencintai Allah dan RosulNya ini, memberikan konsekuensi kita harus mencintai apapun yang disukai Allah dan Rosulnya, termasuk mencintai orang-orang yang sama2 mencintai Allah, Mencintai pekerjaan-pekerjaan yang mendekatkan, mendukung penegakan ibadah kepada Allah. Mencintai hal-hal yang terjadi diantaranya, kesenangan, ujian, tantangan. Apapun.

Dan Cinta membutuh pembuktian, adanya pengorbanan. Jika Ada orang yang mengatakan cinta, tapi hanya kata atau di dalam dada saja, itulah cinta tanpa makna, kosong. Mencintai itu memperhatikan, menumbuhkan, memperbaiki, menjaga.

Maka,,,jika orang2, pekerjaan yang kita tempuh sekarang adalah yang mendekatkan kepada Allah, mendukung tegaknya risalah yang Rosulullah lakukan, MENCINTAI semua unsur tersebut adalah keharusan. Karenanya, pembuktian cinta pada pekerjaan-pekerjaan yang kita lakukan harus tampak: memperhatikan, menumbuhkan, memperbaiki, dan seterusnya untuk lebih baik dari sebelumnya. Mencintai pekerjaan dan hal-hal yang terjadi diantaranya karena Allah.





STOP Aktivis ‘Imun’ di lingkungan yang Nyaman

13 12 2011

Setiap orang tentu ingin hidup dalam kesenangan, ketenangan. Kita mengharapkan apa yang terjadi sekarang atau nanti sesuai dengan harapan dan cita-cita. Karenanya banyak diantara kita bersedia melakukan apa saja untuk mendapatkan hal tersebut.

Jika kita adalah mahasiswa, kita ingin dalam kondisi kuliah kondusif tanpa beban biaya atau lainnya,berangkat-pulang kampus/perpustakaan, belajar maksimal lalu ujian dengan mendapat IPK tinggi sampe akhirnya lulus bekerja dengan penghasilan besar. Jika kita pengusaha/ pengajar/ karyawan yang sedang bekerja, kita ingin berpenghasilan besar, lingkungan kerja kita enak, menyenangkan, sesuai dengan yg kita harapkan ‘lah’ semuanya.

Lalu bagaimana jika kondisinya sebaliknya, kita mahasiswa yang memiliki banyak keterbatasan dlm ekonomi (pas2an; pas butuh kurang), harus belajar ‘banyak’ dn ‘sering’ untuk mendapat nilai tinggi, dan kita mendapat setumpuk ‘amanah’ bergerak di organisasi kampus, bukan pasif tapi harus aktif, karenanya adalah Aktifis. Dengan itu semua kita mulai merasakan tugas semakin banyak, dan beban semakin berat. Bertubi-tubi cobaan datang pada akademik dan lingkungan organisasi kita. Apakah kita bertahan??
Atau Ternyata di lingkungan kerja kita, banyak sekali ‘hal-hal aneh’, ketidakprofesionalan, kesemrawutan, banyak celaan atau hal2 menyakitkan, rasanya berat, tidak kondusif. Padahal kita meyakini Instansi/lembaga tempat kita bekerja memiliki Visi besar untuk kemajuan peradaban, kita juga memahami amanah dan tugas belajar kita adalah ladang amal pembelajaran jembatan sukses kita nanti. Apakah kita bertahan???

Sobat-sobat, mari kita renungkan kembali tujuan hidup kita di dunia. Bukankah untuk beribadah kepada Allah. Dan karenanya janji Allah dalam sabda RasulNya bahwa ‘setiap urusan mukmin adalah baik, jika ia ditimpa ujian maka ia bersabar dan itu baik untuknya, jika ia mendapat nikmat ia bersyukur dan itu baik untuknya’. Lalu,,adakah alasan untuk mengeluh, mudah menyerah atau mundur memperjuangkan Visi besar kita?? Atau mencari tempat yang aman dan nyaman saja?? Hati-hatilah kita jika menjadi Aktivis yang Imun di lingkungan yang nyaman; maunya yang enak-enak saja, yang mudah-mudah saja, yang nyaman saja. Jadilah setegar batu karang sobat, tidak selemah pohon bambu. Kata seorang ulama,’jika ada ketidakbaikan, maka tugas dakwahlah untuk memperbaikinya’.

Mari hadapi tantangan dengan ketegaran, adulah nyali mental kita dengan Allah sebagai pembela menghadapi bertubi-tubi tantangan ;kawan ataupun lawan. Katakanlah “dimanapun medan laga kau inginkan aku ladeni, kapanpun kau tantang aku siap bernyali”. Mari pancangkan tekad, memohon pertolongan Allah agar dikuatkan iman dan tekad sekokoh iman para Rosul dan Sahabat..

Jangan menjadi aktivis yang imun di lingkungan yang nyaman. Setiap makhluk hidup memberikan pengaruh pada lingkungannya. Seekor binatang yang berada di dalam ruang, akan memberikan pengaruh, minimal menambah energi hangat/panas. Maka kita sebagai makhluk berakal selayaknya memberikan pengaruh positif, melukis perubahan yang indah di lingkungan kita, jangan ada atau tiadanya kita sama saja apalagi malah merugikan. Karena kita bukanlah aktivis yang imun di lingkungan yang nyaman. Mari bergerak mari berbuat.

-Renungan Senja, Siap Bekerja untuk Indonesia-in KRL 18.30/13/12/12





Ketaatan Istri Bermuara Syurga

12 12 2011

Harapan dari setiap pasangan suami istri dalam bahtera Rumah Tangga tentu adalah kebahagiaan. Pasangan yang berkumpul dalam satu rumah yang merupakan tempat tinggal, tempat kemuliaaan, adanya suasana kekeluargaan, istana batin bagi insan mulia. Lebih mendalam dalam konteks mulia, Rumah Tangga Islami, adalah rumah yang didalamnya terdapat perasaan sakinah, mawadah, dan rahmah. Tentunya perasaan ini tidak serta merta hadir di tengah-tengah keluarga, melainkan perlu adanya upaya mewujudkannya dalam keseharian, adanya usaha pembelajaran terus menerus dengan memohon kepada Allah agar tiap saat, segala aktivitas insan dalam Rumah tangga diliputi perasaan ketenangan, cinta dan kasih sayang tersebut. Ya. Kata kuncinya adalah pembelajaran terus menerus.

sumber: Google

Seorang suami atau istri selayaknya tidak boleh menyerah, mengeluh apalagi putus asa manakala perasaan sakinah, mawadah dan rahmah seolah belum hadir. Ketenangan misalnya, dapat dilukiskan perasaan kita merasa tenang, damai, nyaman  ketika kita berada di rumah, saat menjelang pulang kantor hati kita merasa rindu ingin bertemu pasangan dan ingin segera sampai di rumah. Jika perasaan ini belum ada, patut dievaluasi mungkin rumah tangga kita bermasalah. Cinta, dapat kita lihat pada pasangan suami istri, misalkan ada suami berumur 80 tahun, sang istri berumur 75 tahun, tetapi pasangan ini terlihat sangat mesra, saling menjaga. Tentu kita menjadi tahu bahwa Cinta tersebut ada bukan karena ketampanan, wajah yang ganteng seorang suami. Pun Cinta tersebut bukan karena kecantikan, kemulusan wajah atau seksi nya tubuh sang istri. Cinta tersebut bersemayam semakin mendarah daging bahkan melampaui usia mereka karena adanya ikatan batin yang sudah terjalin demikian lama, adanya perasaan saling mengisi, memberi, melengkapi, adanya perasaan menyukai pada sesuatu yang khas pada jiwa dan raga serta perilaku. Demikian juga perasaan Kasih Sayang, adanya keinginan untuk saling melindungi, membela. Jika Perasaan-perasaan tersebut senantiasa melingkupi suasana rumah tangga setiap harinya, maka kebahagiaan menyelimuti individu dalam bahtera suci ini, dan semoga semua anggota keluarga merasakan suasana “syurga” di dalamnya. Baiti Jannati.

 

Tentunya ujian, cobaan yang hadir menyertai dalam Rumah Tangga, selayaknya disikapi dengan keikhlasan dan ketaqwaan. Proses pembelajaran sampai akhir hayat harus terus dilakukan, dimanapun kapanpun selalu ada ilmu yang dapat diambil hikmah dan pelajaran. Mental ini yang seharusnya dibangun bagi suami-istri dan individu dalam Rumah tangga sehingga tiap saat ilmu kita semakin bertambah melampaui masalah yang bisa hadir kemudian untuk disikapi dengan bijak. Belajar dan terus belajar, dari yang kecil hinggal hal-hal besar. Suami-istri yang bertaqwa senantiasa menjadikan Allah sebagai tujuan aktivitasnya. Suatu pelajaran, Di zaman Rasulullah dulu, ada seorang sahabat yang ingin berperang, dan berpesan kepada istrinya untuk tak meninggalkan rumah selama dia tak ada.

Istri sahabat ini berjanji patuh. Namun, nasib memang susah diduga. Berselang hari, datang seorang utusan dari keluarganya, dan mengabarkan tentang ibunya yang sakit keras, dan mengharap kedatangan si istri. Si istri ini, dengan meminta maaf, berkata tak dapat hadir. Suaminya tak ada di rumah, dan dia telah berjanji untuk patuh pada pesan suami, tak akan meninggalkan rumah. Si utusan paham. Sehari kemudian, utusan itu datang lagi, mengabarkan si ibu sakitnya kian menjadi. Si istri tetap kukuh, dan tak ingin ingkar janji. Keesokan lagi, si utusan datang, dengan wajah yang pucat. Dia mengabarkan, si ibu telah berpulang, dan sampai akhir hidupnya, dia tak melihat wajah anaknya.  Si istri menangis, tapi dia tak berani menghadiri pemakaman itu. Dia harus patuh pada suaminya.  Lama setelah peristiwa itu, bertanyalah sahabat kepada Rasulullah atas peristiwa itu. Mereka sebagian “mencela” kepatutan sang istri pada suami. Tapi apa kata Rasulullah? “Karena kepatuhan istrinya itulah, ibunya kini telah berada di syurga.” Sungguh kisah yang luar biasa.Subhanallah !!

Dari cerita ini..maka ulama sepakat mengatakan. “Jika seorag anak Syurga dibawah telapak kaki ibu..namun ketika telah bersuami..maka Syurga seorang istri..tergantung ridho suaminya..”. Kisah di atas menggambarkan mulianya seorang istri dalam ketaatan pada suami dalam rangka mengharap ridho Allah SWT. Sikap ketaatan Istri pada kisah tersebut tentunya dapat kita teladani dalam keseharian masa kini, dalam rangka ketaatan pada suami, dalam berbagai hal dan kondisi selama pada koridor yang wajar dan benar.  Bagaimana digambarkan bahwa kepatuhan istri kepada suami sangatlah mulia dalam pandangan Allah. Allah SWT menjanjikan Syurga bagi istri yang menjaga ketaatan pada suami karena Allah:

”Jika seorang istri itu telah menunaikan shalat lima waktu,berpuasa dibulan Ramadhan,dan menjaga kemaluannya dari pada (mengerjakan) perbuatan haram dan taat kepada suaminya, maka akan dipersilahkan,”Masuklah ke Syurga dari pintu mana saja yang kamu mau.”
(HR. Ahmad dan Thabrani).

 





Cambuk Tekad, “Man Jadda Wa Jadda” dan “Man Shabara Zhafira”

30 11 2011

“Ajarkanlah anakmu Sastra, maka seorang anak yang pengecut bisa menjadi pemberani”, begitulah kata Umar bin Khattab. Analoginya dengan membaca sastra dapat membuat hati yang keras menjadi lunak mencucurkan air mata, sastra dapat merubah seseorang yang malas menjadi rajin bersemangat, sastra dapat membangkitkan kekeringan jiwa menjadi bergairah. Tidak semua sastra tentunya. Maka memilah dan memilih perlu dilakukan agar kita beruntung. Beberapa waktu ini, sebuah novel teman menjadi perhatian dari sekian bacaan yang sedang dibaca, ringan namun berbobot hikmah, novel yang kental dengan sastra syarat makna, menghadirkan inspirasi baru, dan menggelorakan ruh jiwa. ‘Ranah 3 Warna’ yang ditulis oleh A.Fuadi. Buku pertamanya berjudul ‘Negeri 5 Menara’.

Dalam Novel tersebut dikisahkan seorang pemuda lulusan pesantren yang ingin kuliah, namun tidak memiliki ijazah SMA. Di saat banyak teman, saudara, tetangga yang mengecilkan mimpinya, ia terus mencoba dan mencoba, ia ingat kata2 gurunya “Man Jadda Wa Jadda”, barangsiapa bersungguh-sungguh akan mendapatkannya. Namun keterbatasan yang dimilikinya terkadang meluluhkan semangatnya, belum pernah mendapatkan pelajaran umum SMA seperti Biologi, Matematika, Fisika, Kimia, dll, belum lagi keterbatasan ekonomi terkadang mengiringi mimpi besarnya untuk kuliah. Disaat beban terasa berat dan tujuan masih terasa jauh itu, ia masih menyimpan ingatan, “mantra” suci dari gurunya selain “mantra” pertama tadi, yaitu “Man Shabara Zhafira”, Siapa yang bersabar ia akan beruntung. Berbekal semangat inilah ia menempa diri, siang-malam belajar, meminjam buku dan membabat habis bacaannya, belajar dari rekan, serta dorongan orang kesayangan; ayah dan ibunda. Walhasil, pemuda yang tidak pernah mengikuti pelajaran umum SMA ini, dengan segala keterbatasan akses, berhasil Lulus dan tembus masuk ke PTN. Ia berhasil membuktikan kepada dunia, tentunya kepada teman-teman dan orang-orang yang meremehkannya. Siapa yang bersungguh-sungguh akan mendapatkannya dan siapa yang bersabar akan beruntung. Man Jadda Wa jadda, Man Shabara Zhafira.

Meskipun belum selesai membacanya, kisah Inspiratif dalam buku tersebut mengingatkan pada kehidupan nyata saat SMA, mulai dari keinginan mendapat ranking terbaik di SMA, masuk IPB, kuliah dengan bisa berpenghasilan, bekerja di bidang sosial sebelum lulus kuliah, menguasai dalam drive (walau belum memilikinya), sampai menikah sebelum lulus. Meskipun masih banyak keinginan yang belum tercapai, bersyukur beberapa harapan sudah. Tentunya capaian ini memerlukan kesungguhan dan kesabaran. Bertahan dan aktif saat lelah,, bersabar menahan ujian. Kesungguhan adalah syarat mencapai harapan, sedangkan kesabaran dan keikhlasan merupakan energi yang mengisi celah antara harapan dan hasil akhir yang ingin didapat.

Dimensi yang berbeda dalam berbagai sisi kehidupan kini, maupun yang akan datang juga memerlukan paling tidak dua hal ini, Kesungguhan dan Kesabaran. Walau seolah kekurangan dalam materi dan kemampuan, terasa susah, berat, dengan usaha terbaik terus-menerus, semangat yang selalu menyala, serta kesabaran dalam menghadapi godaan dan lelah, dengan naungan Doa, Insya Allah tiada yang tidak mungkin dan mustahil. Kesungguhan dan kesabaran akan berbuah manis jika dipakai. Hempaskan jauh-jauh sikap suka beralasan atau berdalih seperti “Tapi saya…”, “Kondisinya susah..” dst.. Hindari berdalih dalam menghadapi segala sesuatu, dalih hanya akan mengecilkan kemampuan besar kita, membuat larut dalam keterbatasan. Karenanya jika dalam organisasi/ instansi tempat kerja kita banyak kekurangan, keterbatasan, semprawut, dll,,bukan menjadi alasan untuk tidak berkembang apalagi berhenti atau mundur. Kesabaran itu terus maju dengan beban yang ada. Kesungguhan itu melawan segela keterbatasan meraih harapan dan Visi besar kita. Mari jadikan kesungguhan dan kesabaran sebagai senjata mengalahkan segala hambatan dan tantangan. Sulit dan sekeras apapun mari hadapi, di medan manapun kita layani. Man Jadda Wa jadda, Man Shabara Zhafira sebagai cambuk tekad menebar manfaat meraih ridho Illahi..

 





Menembus Lelah dari Cilacap

28 11 2011

Perjalanan menembus jawa timur 3 hari ini akhirnya selesai juga. Pukul 02.00 dini hari nyatanya kaki ini baru menginjakkan “gubug Cinta” kami. Perjalanan melintasi Cilacap untuk sebuah ukhuwah 3 hari ini, sangat berkesan. Bukan sekedar memenuhi kewajiban menghadiri undangan Walimatul Ursy saodara kami Riky dan Dewi yang berbahagia, perjalanan ini memberikan pelajaran berharga. Mulai dari perjalanan dari kantor kami; BAZNAS, rombongan bertolak ke Cilacap, melintasi hamparan sawah, sungai, nuansa pedesaan yang menyegarkan pandangan dan pikiran. Suasana alam yang jarang bahkan tidak ditemui di kota seperti Jakarta. Perjalanan ini sekaligus sebagai tafakur alam, merefresh hati dan fikiran, merenungi kebesaran cintaan Allah yang Maha Indah..

Walimatul Ursy

Sekitar 10 jam perjalanan keberangkatan ke Cilacap, akhirnya sampai di rumah rekan kami yang juga tinggal satu kota dengan calon mempelai, istirahat sejenak, menikmati hidangan khas daerah, “mindoan goreng”, jajanan pasar dengan teh manis hangat yang nikmattt sekali. Dilanjutkan dengan santapan sarapan dengan sayur urap, sambal trasi, tempe dan ayam goreng menambah suasana pagi menjadi lebih komplit. Perjalanan ini berlanjut setelah kami beres-beres, perjalanan ke sebuah pulau yang sering kami dengar, pulau Nusakambangan. Pulau yang dianggap pulaunya para napi. Ternyata pulau ini tidak terlalu jauh dari cilacap. Sekitar 1 jam perjalanan dari tempat singgah kami.

Pulau Nusakambangan

Pulau Nusakambangan teryata adalah pulau yang sangat Indah. Dari kejauhan, tampak hamparan pepohonan hijau mengelilinginya. di dalam pulau ini terdapat 7 Lapas yang digunakan untuk pembinaan para napi. LApas ini pun berjenjang, dari yang terberat sampai teringan, sesuai kadar tindak kejahatannya begitulah cerita dari seorang petugas yang mengantarkan kami. Perjalanan kami lanjutkan, dari mencicipi makanan pantai seafood sampai ke hotel dan keesokan harinya menyaksikan sebuah perjanjian agung; Mitsaqon Gholiza Saudara kami amil BAZNAS Ricky Rahmat dan Dewi.

Selesai acara, sekitar pukul 11 siang, kami meninggalkan Cilacap menuju Jakarta. Kali ini perjalanan di tempuh melalui jalur utara/ Pantura, dan ternyata waktu tempuh ini, lebih lama dari sebelumnya yang melalui jalur selatan. Perjalanan jauh ini, cukup membuat sendi-sendi badan pegal dan lelah. Dan yang harus selalu dijaga, diwaspadai dalam perjlanan seperti ini adalah ibadah harian; sholat, tilawah, zikir, dan adab-adab selama perjalanan. Ini penting agar kita tidak terlena dan masuk dalam pernagkap godaan Syaitan yang selalu mengintai.

Bus kami akhirnya sampai lagi di BAZNAS pukul 11.30 malam, sedikit ragu untuk kembali ke Bogor karena sudah sangat larut untuk mencari kendaraan ke sana. HP bergetar, dan SMS masuk dari  sang “khumairah”, istri tercinta Evi Mariani, meledakkan semangat diri, “hemmm malam ini tidur sendiri lg”. Semangat juang menembus uadara malam Jakarta kembali bangkit, sang kekasih jiwa menanti, merindu penuh haru. Bismillah… setelah membonceng seorang teman, naik taksi, berlanjut metromini, dan ojek. Akhirnya sampailah di “Gubug Cinta” kami. Lelah yang menggelayut kaki, pegal-pegal di sekujur tubuh tentu pasti. Kutambatkan semuanya di hamparan sajadah 1/3 malam terakhir, dengan keadaan lelah ini kuhadapkan jiwa-raga ku padaMu ya Rabbb,, dalam keadaan penuh cinta dalam dada ini kuberharap padaMu ya Rahman…Kuatkan lah ikatannya, kekalkanlah Cintanya….Ya Rabb Bimbinglah kami…

Terimalah amal-amal kami Ya Allah….

 

Salabenda, Bogor 03.45, 28 Nopember 2011








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.